Cinta itu sebuah anugrah dari yang Maha Kuasa, semua orang pasti pernah merasakannya. Seperti yang sedang aku rasakan saat ini. Mungkin benar jika orang-orang bilang, Cinta itu gila. Yaa, aku benar-benar gila sekarang dan tak henti-hentinya memikirkan aaaalllll about her :)
Oke dia adalah Riza, seorang wanita muslimah yang sangat amat baik hati, diaaaa cantik luar dalam lah. Mungkin sebagian teman-teman bilang dia biasa saja, tidak terlalu cantik. Tapi bagiku dia sangat luar biasa. Kebaikan hatinya, senyumannya, sopan santunnya, segalanya laaah. Aku mulai mengenalnya saat kami duduk di kelas 2 SMA, sebelumnya kami saling tak kenal satu sama lain. Awalnya aku biasa saja, tapi lama-kelamaan, aku merasakan hal yang lain, hal yang sebelumnya tak pernah terjadi padaku. Aku pernah menyukai anak, tapi tidak seperti ini, ini sungguh berbeda. Entah mengapa, aku merasa cocok dengannya, bukan ke PDan atau gimana yaa, aku merasa dia juga suka sama aku *eh. Tapi ini ada banyak alasannya. Dia selalu seperti salah tingkah saat aku berbicara dengannya, tapi itu sebenarnya tak terlihat juga, tertutupi oleh keanggunannya dan sopan santunnya. Pernah juga beberapa waktu lalu, aku diberitau oleh temanku, dia dan sahabatnya sedang berbincang-bincang, curhatlah istilahnya, dan temanku mendengar mereka menyebut-nyebut namaku dan Riza dengan wajah yang malu-malu.
Dia adalah seorang yang baik dan rendah hati. Dia anak yang pintar. Dulu kami sering berbincang-bincang bertukar pikiran. Aku juga sering kali bersms atau chat dengannya tentang pelajaran dan banyak hal. Aku selalu menghubunginya, mengirim pesan singkat selamat pagi, jangan lupa makan, selamat malem, met bobok yaa. Dan dia juga selalu mengingatkanku jangan lupa sholat, hati-hati di jalan, kalau bawa motor jangan ngebut-ngebut. Rasanya bahagiaaaa banget diingetin kayak gitu. Walaupun juga aku mikir-mikir, dia dekat dengan semua orang, dan mungkin aku bukan satu-satunya orang yang diingatkan seperti itu.
Besok adalah hari ulang tahunnya, aku berencana memberikannya kejutan dan sekalian mau mengungkapkan perasaan. Entahlah aku sendiri tidak yakin dan merasa aku tidak pantas untuknya, tapi bagaimana lagi, rasanya perasaan ini sudah ingin meluapkan saja, sudah terlalu banyak yang kupendam selama kurang lebih setahun ini.
Aku datang di kelas sangat pagi, jauh lebih pagi dari pada biasanya, karena aku ingin memberinya kejutan sebelum kelas dimulai, dan biasanya dialah orang pertama yang datang di kelas. Semua sudah kupersiapkan, kue, lilin, dan sebuah amplop berwarna biru--kesukaannya, yang berisi surat ungkapan perasaanku. Bukan aku tidak berani atau bagaimana, aku hanya takut salah-salah kata.
Akhirnya dia datang, segera aku memberinya kue yang sudah terpasang lilin 17 diatasnya dan mengucapkan selamat ulang tahun dan harapan-harapanku. Segera kusodorkan amplop biru itu. .
Dia membukanya dan segera membacanya, dia tersenyum sambil melihatku. Dengan segera dia menuliskan balasannya di kertas lain dan menyerahkannya kepadaku
"Terimakasih yaa Ari :) Maaf, mungkin tidak untuk saat ini, aku sudah berjanji kepada diriku untuk tidak menjalin hubungan apapun sampai aku menikah kelak, mungkin untuk saat ini kita berteman saja ya? :)"
Aku tersentuh membacanya, Subhanallah, sungguh luar biasa orang yang sedang duduk di depanku ini. Aku malu kepada diriku sendiri. Mengapa aku tak pernah memikirkan hal ini sebelumnya? Aku semakin jatuh cinta kepadanyaa. Aku hanya tersenyum, kemudian aku berkata perlahan "Iya tak apa Riz, tunggu aku 7 tahun lagi, tunggu aku jadi orang sukses ya" Dia hanya menyunggingkan senyuman manisnya dengan tatapan mata seperti berkata "Ya"
Tampilkan postingan dengan label fiction. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label fiction. Tampilkan semua postingan
Jumat, 12 Oktober 2012
Ketika keceriaan dan tawa mengubah segalanya
Mungkin kebanyakan orang bilang, aku adalah orang yang pendiam. Tapi juga tak ku elak karena kurasa itu benar. Sesungguhnya di dalam hatiku aku sungguh ingin banyak bicara, tapi aku tak tau bagaimana caranya mengungkapkannya.
Hai perkenalkan, namaku Quittalia Nisa, anak kedua dari tiga bersaudara. Aku memang anak pendiam mungkin sangat amat pendiam. Aku tak banyak bicara, mungkin bicara seperlunya saja. Bukannya aku pelit, cuek, atau bagaimana, tapi karena aku merasa aku bukan apa-apa, aku tak memiliki kelebihan-kelebihan seperti teman-temanku lainnya. Mungkin aku banyak bicara ketika bersama keluargaku, dua orang sahabatku--Lilia dan Ivi, dan seorang teman masa kecilku, Akbar. Tapi kini, saat aku harus merantau ke pulau orang, aku harus benar-benar memendam rasa rinduku kepada mereka, rindu yang sangat amat dalam. . Notebook sedang berwarna biru muda lah yang selalu menemaniku dan mendengarkan curhatku setiap harinya.
Kuliah, aku sangat bahagia bisa kuliah di salah satu universitas terbaik di seluruh Indonesia, tapi itu berarti aku harus bertemu orang-orang dan lingkungan yag baru pula. Sejujurnya aku tak siap dengan semua ini, sungguh tak siap. Tapi inilah jalan yang kupilih dan aku harus menjalaninya. Allah sudah memberikan kesempatan ini kepadaku dan aku harus memanfaatkannya dengan baik.
Hari demi hari kulalui, lembar baru dimulai, akhir-akhir ini sedang gencar-gencarnya persiapan ospek. Mau tidak mau aku harus banyak meluangkan waktuku untuk mengerjakan tugas-tugas ini dan itu. Berkumpul dengan teman-teman baru, mengerjakan tugas bersama, tapi tetap saja aku merasa sendiri dan terpencil, seakan-akan aku tak ada di situ, tak ada di sekitar mereka. Aku malu jika ingin bergabung dengan mereka, aku selalu merasa, aku berbeda dengan mereka, aku tak pantas berteman dengan mereka. Mereka seperti golongan tingkat atas menurutku, sedangkan aku dan beberapa teman pendiam lainnya hanyalah golongan yang biasa-biasa saja.
Berhari-hari seperti itu, sampai tak terasa sudah satu minggu berlalu. Kami sedang berada di sebuah taman di dalam kampusku yang asri. Kami sedang mengerjakan tugas bersama dan teman-temanku saling bercanda gurau, menyanyi bersama, dan juga menari-nari, sesekali aku tersenyum-senyum sendiri melihat tingkah laku mereka yang unik-unik dari pojokan taman sambil berharap aku bisa membaur dengan mereka.
Aku sadar ada beberapa temanku tadi yang memperhatikanku, aku mulai tak nyaman, dan memilih untuk menundukkan kepala agar tak melihat mereka. Tiba-tiba salah dua orang dari mereka menghampiriku, aku tau nama mereka Aris dan Ghia.
"Hei Nis, ngapain kamu mojok di sini sendirian, ayoo ikutan ke sana" ajak Ghia dengan ramah
"Wah mereka mengenalku ternyata," batinku dalam hati
Aku masih terdiam sambil tersenyum
"Yukz Nis, jangan nggalau di sini, bahaya loo, hehe" lanjutnya
Tiba-tiba Aris menarikku ikut bersama mereka, aku melihat beberapa teman lain melakukan hal yang sama kepada teman-teman yang kurasa pendiam-pendiam seperti diriku.
Mereka meminta kami--para anak pendiam untuk ikut bernyanyi bersama mereka. Mereka terkadang melakukan hal-hal aneh yang sebenarnya sudah tak pantas lagi dilakukan oleh seorang mahasiswa.
Kami tertawa bersama, jujur, baru kali ini aku merasakan hal yang seperti ini, tertawa lepas bersama orang-orang yang baru aku kenal. Baru kali inilah aku merasakan jika aku diperhatikan. Aku merasa aku memiliki keluarga di sini, di lingkungan baruku. Ya memang seharusnya kita menjadi sebuah keluarga yang utuh. Aku melihat teman-teman pendiam lainnya juga mungkin merasakan hal yang sama denganku. Aku melihat cara mereka tertawa lepas yang tidak seperti biasanya. Aku merasa lebih kuat, aku merasa lebih terbuka untuk bergaul dengan mereka semua, aku merasa punya keberanian yang tidak seperti biasanya.
"Aku bersyukur ya Allah telah engkau pertemukan dengan orang-orang hebat ini. Tuntunlah aku dalam masa adaptasiku ini. Lancarkanlah jalan kami semua. Semoga ini adalah awal yang baik untuk kedepannya." batinku sambil tersenyum
Hai perkenalkan, namaku Quittalia Nisa, anak kedua dari tiga bersaudara. Aku memang anak pendiam mungkin sangat amat pendiam. Aku tak banyak bicara, mungkin bicara seperlunya saja. Bukannya aku pelit, cuek, atau bagaimana, tapi karena aku merasa aku bukan apa-apa, aku tak memiliki kelebihan-kelebihan seperti teman-temanku lainnya. Mungkin aku banyak bicara ketika bersama keluargaku, dua orang sahabatku--Lilia dan Ivi, dan seorang teman masa kecilku, Akbar. Tapi kini, saat aku harus merantau ke pulau orang, aku harus benar-benar memendam rasa rinduku kepada mereka, rindu yang sangat amat dalam. . Notebook sedang berwarna biru muda lah yang selalu menemaniku dan mendengarkan curhatku setiap harinya.
Kuliah, aku sangat bahagia bisa kuliah di salah satu universitas terbaik di seluruh Indonesia, tapi itu berarti aku harus bertemu orang-orang dan lingkungan yag baru pula. Sejujurnya aku tak siap dengan semua ini, sungguh tak siap. Tapi inilah jalan yang kupilih dan aku harus menjalaninya. Allah sudah memberikan kesempatan ini kepadaku dan aku harus memanfaatkannya dengan baik.
Hari demi hari kulalui, lembar baru dimulai, akhir-akhir ini sedang gencar-gencarnya persiapan ospek. Mau tidak mau aku harus banyak meluangkan waktuku untuk mengerjakan tugas-tugas ini dan itu. Berkumpul dengan teman-teman baru, mengerjakan tugas bersama, tapi tetap saja aku merasa sendiri dan terpencil, seakan-akan aku tak ada di situ, tak ada di sekitar mereka. Aku malu jika ingin bergabung dengan mereka, aku selalu merasa, aku berbeda dengan mereka, aku tak pantas berteman dengan mereka. Mereka seperti golongan tingkat atas menurutku, sedangkan aku dan beberapa teman pendiam lainnya hanyalah golongan yang biasa-biasa saja.
Berhari-hari seperti itu, sampai tak terasa sudah satu minggu berlalu. Kami sedang berada di sebuah taman di dalam kampusku yang asri. Kami sedang mengerjakan tugas bersama dan teman-temanku saling bercanda gurau, menyanyi bersama, dan juga menari-nari, sesekali aku tersenyum-senyum sendiri melihat tingkah laku mereka yang unik-unik dari pojokan taman sambil berharap aku bisa membaur dengan mereka.
Aku sadar ada beberapa temanku tadi yang memperhatikanku, aku mulai tak nyaman, dan memilih untuk menundukkan kepala agar tak melihat mereka. Tiba-tiba salah dua orang dari mereka menghampiriku, aku tau nama mereka Aris dan Ghia.
"Hei Nis, ngapain kamu mojok di sini sendirian, ayoo ikutan ke sana" ajak Ghia dengan ramah
"Wah mereka mengenalku ternyata," batinku dalam hati
Aku masih terdiam sambil tersenyum
"Yukz Nis, jangan nggalau di sini, bahaya loo, hehe" lanjutnya
Tiba-tiba Aris menarikku ikut bersama mereka, aku melihat beberapa teman lain melakukan hal yang sama kepada teman-teman yang kurasa pendiam-pendiam seperti diriku.
Mereka meminta kami--para anak pendiam untuk ikut bernyanyi bersama mereka. Mereka terkadang melakukan hal-hal aneh yang sebenarnya sudah tak pantas lagi dilakukan oleh seorang mahasiswa.
Kami tertawa bersama, jujur, baru kali ini aku merasakan hal yang seperti ini, tertawa lepas bersama orang-orang yang baru aku kenal. Baru kali inilah aku merasakan jika aku diperhatikan. Aku merasa aku memiliki keluarga di sini, di lingkungan baruku. Ya memang seharusnya kita menjadi sebuah keluarga yang utuh. Aku melihat teman-teman pendiam lainnya juga mungkin merasakan hal yang sama denganku. Aku melihat cara mereka tertawa lepas yang tidak seperti biasanya. Aku merasa lebih kuat, aku merasa lebih terbuka untuk bergaul dengan mereka semua, aku merasa punya keberanian yang tidak seperti biasanya.
"Aku bersyukur ya Allah telah engkau pertemukan dengan orang-orang hebat ini. Tuntunlah aku dalam masa adaptasiku ini. Lancarkanlah jalan kami semua. Semoga ini adalah awal yang baik untuk kedepannya." batinku sambil tersenyum
Langganan:
Postingan (Atom)